PESERTA YANG TERDAFTAR DI FVE 2011

.

.

BELAJAR SEJARAH DUNIA LEWAT LOGAM DAN KERTAS

sutradara : Annisah Nur Adinah

rumah produksi : Daffodil Film


Museum Uang Purbalingga memiliki koleksi mata uang 134 negara termasuk Indonesia.

.

 
.
 

Endhog

sutradara : Padmashita Kalpika

rumah produksi : Brankas Film


Kisah eksperimen untuk membuktikan antara melahirkan dan bertelur.

 

.
 
.
 

Disini Panglima Besar Dilahirkan

sutradara : Padmashita Kalpika

rumah produksi : Brankas Film


Seorang Jenderal Besar dilahirkan di sebuah kota kecil bernama Purbalingga

   
 
 

KALUNG SEPATU

sutradara : Dwi Astuti

rumah produksi : Papringan Pictures

Bagaimana reaksi Bapak Budi setelah mengetahui kesalahan yang dilakukan oleh Budi?

   
 
 

GULMA YANG BERNILAI GUNA

sutradara : Rakhma Adisti

rumah produksi : Ekskul Sinematografi (SMAN Rembang, Purbalingga)

Di tangan Mbah Gepuk, rumput yang dikenal sebagai gulma mempunyai nilai guna. Beruntung, sepeninggalnya masih ada orang-orang dekat yang meneruskan tugas sucinya.

   
 
 

BREEENG!!!

sutradara : Dyah Kartikasari

rumah produksi : Brankas Film

 

Simin yang diejek karena sepatu baunya tapi dengan sepatu baunya itu dia menjadi pahlawan.

   
 
 

Menguak Fitrah Keagamaan

sutradara : Hardika Putra

rumah produksi : MAN SIDOARJO

Adalah Hardika dan kawan-kawan adalah kumpulan siswa yang kritis dan kreatif.
Saat itu mereka sedang mengerjakan tugas membuat makalah dengan topik yang sedang aktual saat ini, yaitu tentang pluralisme atau keberagaman.
Saat mencari data internet, mereka menemukan definisi pluralism sebagai sebuah kondisi masyarakat yang beragam di tandai oleh toleransi, saling menghargai, dan saling bekerja sama. Namun, mereka menjadi bertanya-tanya ketika mengetahui bahwa pluralism mengarah pada peleburan/asimilasi agama. Karena itu mereka berusaha mencari narasumber yang wawasannya luas terkait dengan pluralisme. Mereka kemudian memutuskan menemui ibu Saidah. Saat bertemu ibu Saidah, mereke diterima dengan baik dan siap membantu memecahkan masalah yang mereka hadapi saat membuat makalah.
Ada 3 hal penting yang mereka tanyakanlangsung pada ibu Saidah, yaitu :
1. Adakah konsep dasar pluralisme dalam islam?
2. Arah dari pluralisme adalah peleburan/asimilisi agama-agama. Bagaimana penadapat Bu Saidah?
3. Sebagaimana orang Islam, bagaimanakah seharusnya bersikap dan bertindak yang tepat kepada umat agama lain.
Ibu Saidah menjelaskan bahwa pluralisme dalam arti keberagaman merupakan fitrah (takdir/ketetapan dari Allah. Allah sendirilah yang menghendaki perbedaan (QS Yunus : 99) dan (QS Al-Maidah : 48). Karena itulah menolak keberagaman berarti menentang kehendak-Nya. Padahal tujuan diciptakannya keberagaman adalah untuk saling mengenal dan berpacu dalam kebaikan dan keunggulan. Ibu Saidah juga menjelaskan bahwa Islam tidak menganjurkan peleburan agama-agama menjadi satu; melainkan mengedepankan toleransi (QS Al-Kafirun : 5). Hal ini diyakini karena semua agama akan menolak adanya peleburan agama-agama ini. Cara terbaiknya dadalah mengakui keberadaan agama masing-masing dan hidup bertoleransi.
Dijelaskan pula sebagai orang Islam dalam bersikap dan berbuat berhubungan dengan umat lainnya adalah :
a. Dilarang memusuhi umat agama lain.
Karena seharusnya Islam sebagai rahmat seluruh alam (QS Anbiya : 107). Bahkan Rasulullah Muhammad SAW mengancam akan memusuhi di akhirat bila merugikan bahkan mendzalimi umat lainnya (HR Abu Dawud, Al Baihaqi);
b. Mempelopori toleransi dalam beragama.
Karena banyak adat yang menganjurkan toleransi. Demikian pula contoh mantan presiden RI Abdurrahman Wahid (alm).
setelah memperoleh data dari wawancara kepada narasumber (Ibu Saidah) tersebut, Handika dan kawan-kawan kembali merumuskannya dan siap menuangkannya
kedalam makalah mereka.

   
 
 

Harmony in Diversity

sutradara : Siti Alfiya Hidayati

rumah produksi : SMK N 1 Surabaya

Dr. Elis ialah salah seorang dokter muda yang baru saja mengawali profesinya sebagai dokter. Di Rumah sakit tersebut,ia bersama pamannya yang bernama Dr.Erick yang notabene adalah Dokter senior di rumah sakit tersebut. Suatu hari Dr. Elis ditugaskan untuk praktek di Madura. Disana ia memilih untuk tidak berbuat baik dengan orang-orang disana karena sesuatu hal yang membuat ia bersikap seperti itu. Namun disana ia menemukan seseorang serta beberapa kejadian yang membuat ia sadar akan sesuatu hal bahwa perbedaan bukanlah sebuah alasan........

   
 
 

Kain Merah Putih

sutradara : Redo Anya R

rumah produksi : SMA N 8 Yogyakarta

Mengisahkan seorang pelajar SMA bernama Audra , seorang pelajar seperti kebanyakan pelajar lain yang penuh dengan kenakalannya. Sering terlambat kesekolah, tidak memperhatikan pelajaran di kelas dan masih banyak hal nakal yang lain. “Kain Merah Putih” menceritakan tentang sisi lain dari seorang pelajar yang notabene bisa disebut seorang pelajar yang nakal akan tetapi memiliki jiwa Nasionalisme tinggi dan kritis terhadap kehidupan bermasyarakat.
Nasionalisme disini disimbolkan dengan menghormati lambang Negara kita yaitu Sang Merah Putih. Tetapi, dapatkah lambang Negara kita yaitu sang merah putih dibandingkan dengan sebuah rasa kemanusian?
“Kain Merah Putih” menunjukan pada kita bahwa kehidupan ini adalah sebuah tindakan. Bahwa Nasionalisme harus kita imbangi dengan sebuah sikap yang baik pula. Nasionalisme tanpa kesadaran hidup yang benar adalah omong kosong dan nasionalisme datang dari sebuah kesadaran diri bukan dari paksaan orang lain.

   
 
 

BEDA BOLEH

sutradara : Lucia Ratnaningdyah S

rumah produksi : Sisa Sela Sinema

Tiga seorang mahasiswa tionghoa dipalak beberapa pemuda saat akan berangkat kuliah, ketika itu Saka yang tengah membeli rujak menolongnya. Keduanya lalu berkenalan. Tetapi dihadapan orang tuanya Saka tidak berani serta merta jujur bahwa rujak yang dibelinya kurang satu karena dirampas pemalak. Baru setelah dipancing bapaknya, Saka berani jujur, Bapak lalu menasihati tentang pentingnya kejujuran. Bapak lalu menjanjikan mereka pikink ke pegunungan pada liburan nanti, Melati adik Saka sangat kegirangan. Ketika Saka dan teman-temannya melihat pengumuman festival layang-Iayang, mereka berrnaksud mengikutinya, tetapi ketentuan teknis selanjutnya harus dilihat di internet, rnereka tidak tahu caranya. Untung kak Toga mau menunjukkan caranya pada mereka. Tetapi kemudian rnereka bertengkar tentang perbedaan ide pada layang-Iayang mereka. Kali ini kembali Kak Toga membantu mereka mewujudkan ide dengan rnendesainnya di kornputer dulu sehingga bisa segera dilihat hasilnya, dan diputuskan mana yang dipilih. Kak Toga juga menjelaskan wajarnya muncul perbeaan ide.Tetapi kernalangan rnelanda Kak Toga, kerusuhan karena perang agarna terjadi di kampung halamannya. Saka dan teman-teman bersimpati dengan kondisi kak Toga yang terancam tidak bisa bayar SPP karena orangtuanya di pengungsian dengan cara menyurnbangkan dana layangan mereka untuk kak Toga. Saka menayakan kepada Bapak mengapa harus terjadi perang agarna, dan menyesalkan mengapa harus ada bermacam-macam agama. Bapak menjelaskan pada Saka arti perbedaan dan bagaimana menerimanya dengan keterbukaan yang iklas.
Akhirnya Bapak menyatakan kesediaannya mengganti uang anak-anak untuk biaya pembuatan layang-Iayang. Saat pulang dari uji coba layangan Saka baru berani terus terang pada bapaknya bahwa dia tidak setuju piknik di pegunungan karena sebenarnya dia ingin ke pantai.
Bapak lalu mengingatkan bahwa perbedaan pendapat itu boleh-boleh saja.